Manfaat ‘Memaafkan’ bagi Kesehatan Jiwa dan Fisik

Komentar

Tahukah kamu, ternyata tradisi saling memaafkan memiliki manfaat secara psikologi dan kesehatan.

HAL yang lazim dilakukan umat muslim Indonesia saat lebaran adalah saling meminta maaf. Dalam kondisi normal, hal itu dilakukan di sela-sela silaturahmi. Saling mengunjungi. Namun, dalam kondisi tidak normal karena Covid-19, permohonan maaf hanya dilakukan via daring. Pesan Whatsapp atau Video Call.

Jikalau bertemu, bisa dilakukan dengan kata-kata, misalnya ‘Mohon Maaf Lahir Batin’, dengan menangkupkan tangan. Tanpa berjabat. Hindari sentuhan fisik. Demi memutus rantai Covid-19.

Bagaimana pun metodenya, memaafkan ternyata memiliki dampak psikologi yang luar biasa. Berikut ini kajiannya;

Definisi Memaafkan:

Memaafkan merupakan proses menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Pemaafan (forgiveness), kata ahli psikologi Robert D. Enright merupakan kesediaan seseorang meninggalkan kemarahan dan penilaian negatif terhadap orang lain yang telah menyakitinya.

Manfaat Memaafkan

Seorang ahli psikologi dari Universitas Stanford California, Frederic Luskin, pernah melakukan eksperimen. Kesimpulan penelitian Luskin menunjukkan manfaat memaafkan yang akan menjadikan seseorang: (a) Jauh lebih tenang kehidupannya. (b) Mereka juga tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. (c) mereka semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Memperkuat Ketahanan Fisik

Para ahli psikologi mempercayai bahwa memaafkan memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan. Pemaafan (forgiveness) merupakan karakter positif yang membantu individu mencapai tingkatan optimal dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual.

Belakangan, pemaafan populer sebagai psikoterapi atau sebagai suatu cara untuk menerima dan membebaskan emosi negatif seperti marah, depresi, rasa bersalah akibat ketidakadilan, memfasilitasi penyembuhan, perbaikan diri, dan perbaikan hubungan interpersonal dengan berbagai situasi permasalahan.

Pemaafan mempengaruhi ketahanan dan kesehatan fisik dengan mengurangi tingkat permusuhan, meningkatkan sistem kekebalan pada sel dan neuro-endokrin, membebaskan antibodi, dan mempengaruhi proses dalam sistem saraf pusat (Worthington & Scherer, 2004).

Tahapan

Memaafkan memang tidak mudah. Butuh proses dan perjuangan untuk melakukannya. Adanya kebaikan bagi diri kita dan bagi orang lain akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan.

Berikut adalah 4 tahapan yang bisa dilakukan untuk mencapai tahap memaafkan—baik diri sendiri, maupun orang lain—dengan lebih mudah:

Recognition (Pengenalan)

Pengenalan di sini dimaknai dengan bagaimana seseorang menyadari bahwa memaafkan adalah sebuah pilihan yang datang dengan berbagai keuntungan. Menyadari emosi-emosi negatif membawa ketakutan dan kemarahan, akan berganti dengan emosi-emosi positif seperti empati dan kasih sayang. Inilah yang kemudian akan membawa pada kemajuan fisiologis dan psikologis yang signifikan, seperti penurunan tidak hanya denyut jantung, tetapi juga tingkat kecemasan, tingkat depresi, pemikiran mengenai permusuhan, serta penurunan sikap yang menggambarkan kemarahan. Tahapan ini biasanya terjadi pada saat individu mengambil waktu dan merenung atas kejadian serta emosi yang sedang dirasakan.

Responsibilities (Tanggung jawab)

Insight atau penemuan ini adalah tahapan di mana seorang individu menyadari adanya ketidaksempurnaan pada manusia, baik diri sendiri maupun orang lain. Ketika seorang individu mampu melihatnya dari sudut pandang ini, ia akan memahami bahwa ketidaksempurnaan ini yang melahirkan tidak terpenuhi ekspektasi atau harapan atas peristiwa tertentu sehingga mengantarkan pada emosi negatif, seperti kekecewaan. Dengan konstruksi pemikiran logis ini, individu akan mengklarifikasi sejauh mana sebenarnya ia akan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Expression (Ekspresi)

Tahapan ini bermakna bagaimana seseorang akan berdialog mengenai apa yang dirasakannya. Berdialog disini artinya berdialog dengan orang lain. Di mana seorang individu perlu menyiapkan diri untuk membuka diri demi mendapat bantuan dan dukungan dari orang lain. Secara tidak langsung, tahapan ketiga ini akan memfasilitasi seseorang untuk kembali bergabung dengan lingkungan dan komunitasnya.

Re-creating (Membangun kembali)

Tahapan ini adalah tahapan di mana individu membangun kembali kehidupannya bukan hanya dengan memaafkan, tetapi juga menerima peristiwa atau kejadian tersebut sebagai bagian dari hidupnya. Hal ini bukan bertujuan untuk melupakan masa lalu, melainkan untuk membuang energi masa lalu dengan mengembalikan hidup kita di masa sekarang demi mempersiapkan diri kita untuk menjalani masa depan yang lebih baik.

Menjadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk saling memaafkan lalu memetik berbagai kemanfaatan dari saling memaafkan tersebut.

Sumber : pijarpsikologi.org

Tim Kediriapik
Berikutnya

Terkait Posting

Komentar