Ratusan Sepeda Onthel Milik Kolektor Kediri, Harganya Bisa Sampai Rp60 Juta

Komentar

Sepeda onthel yang dirawat oleh Sadam Husein mencapai 400 ratus sepeda. Kearifan anak muda yang menyediakan jiwa dan raganya dalam menjaga warisan sang ayah.

kediriapik.com

Bagi pencinta sepeda tua Indonesia, nama H Amir Fatah (alm) yang beralamat di Jl. Letjen Suparman, Kota Kediri tidaklah asing. Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai salah satu kolektor sepeda onthel asal Kediri yang mempunyai banyak koleksi sepeda tua.

Tak kurang dari 400-an sepeda onthel koleksinya hingga kini masih terawat dengan baik di gudang penyimpanannya.  Koleksi sepeda tua itu buatan pabrikan Belanda, Inggris, Rusia, Prancis, hingga Cina keluaran tahun 1900-an.

Mengoleksi sepeda kaum ningrat pada zaman kolonial Belanda kala itu, dimulai H. Amir Fatah sejak tahun 1988 silam. Semua koleksi sepeda H. Amir Fatah saat ini dirawat oleh anaknya Saddam Husein yang juga penggemar sepeda onthel.

Sadam menuturkan mulai suka dengan sepeda hordok sebutan lain sepeda onthel sejak di bangku SMP.“Dulu saya minta sepeda, kemudian dibelikan sepeda, terus dikasih sepeda hordok. Tak lama kemudian dijual lakunya mahal, setelah itu bapak saya membeli lebih banyak sepeda onthel,” ungkap Sadam.

Di dalam dua gudang milik Saddam berukuran 20×50 m2, berjajar sepeda tua dari berbagai merk antara lain Gazelle, Fongers, Simplex, Batavus, Sparta dan Hima. Semua barang tersebut diperoleh orang tuanya dari berburu.

“Bapak dulu mendapatkan dari berburu, hampir ke seluruh pelosok Indonsesia termasuk ke tanah Papua. Bahkan sepeda Gazelle yang bernah dijual, kembali dibeli meski dengan harga tinggi,” lanjut Saddam, saat ditemui di gudang sepeda onthel orang tuanya.

Saddam mengatakan, bahwa tidak hanya mengoleksi, bapaknya juga menjual bila ada pembeli yang cocok dengan harganya. Untuk saat ini harga sepeda onthel merk Gazelle orisinil tembus Rp40 juta sampai Rp60 juta, tergantung kelengkapannya. Sementara harga sepeda tua dengan suku cadang yang tidak orisinil di pasaran berkisar antara Rp10 juta – Rp 20 juta.

“Pernah sepeda Sparta buatan Belanda tahun 1917, dibeli oleh anggota dewan dari Mojokerto laku Rp60 juta. Sepeda langka (sparta) tersebut sekarang berada di Museum Angkut di Batu. Saya tidak tahu cerita sepeda itu berada di sana,” jelas Saddam.

Saddam juga rutin mengikuti kegiatan komunitas Onthelis. Namun, ngonthel bareng itu sempat terhenti, karena pandemi Covid-19. Selepas pandemi, kegiatan-kegiatan itu kembali berlangsung.

Perjalanan Sepada Onthel di Indonesia Dimulai Sejak Kolonial Belanda

Sepeda yang paling banyak penggemarnya dan tak lekang dengan waktu, pasti semua tahu jawabnya yakni sepeda onthel. Selain antik, sepeda ini mempunyai kesan tersendiri dibandingkan dengan jenis sepada lainya.

Sepada onthel dalam Bahasa Inggris disebut roadster bicycle atau juga disebut sepada unta, pit kebo (sepeda kerbau) merupakan sepada tipe standar dengan ukuran ban 28 inchi.

Pit pancal ini sangat akrab dengan masyarakat Indonesia, yang sudah ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda berkuasa di Indonesia. Dahulu sepeda ini banyak digunakan oleh orang-orang belanada dan pada era tahun 1940 hingga 1970-an umumnya digunkan oleh masyarakat perkotaan.

Di Indonesia masyarakat umum sepeda onthel digunakan sebagai alat transportasi dan sebagai kendaraan pribadi layaknya kendaraan bermotor di zaman kekarang. Umumnya sepeda onthel kala itu dimilik oleh Kaum Ningrat dan Pengusaha.

Hilang masa kejayaanya, pada tahun 1970 keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh “sepeda jengki” yang ukuranya baik dari tinggi dan panjang serta tidak dibedakan desainya untuk pengendara pria atau wanita.

Sepeda jengki yang polpuler waktu itu bermerek Phoenix dari negeri China, selanjutnya pada tahun 1980 sepede jengki juga mulai digeser keberadaanya oleh sepeda MTB dan sepeda seli atau sepeda lipat.

Dalam perjalananya sepeda onthel ini pada tahun 1970 mulai banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan untuk aktifitas pertanian seperti ke sawah, ladang dan berdagang ke pasar. Setelah tahun 1970 hingga tahun 2000-an, masyarakat mulai menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi.

Sepeda onthel yang dulunya terbuang, sekitar tahun 2000 hingga sekarang menjadi buruan oleh semua kalangan mulai dari pelajar hingga pejabat karena kelangkaan dan usianya. Keranjingan memburu sepeda onthel ini bertepatan dengan berkembangnya ancaman global warming.

Banyaknya penggemar sepeda onthel kini bermunculan ratusan komunitas dan klub-klub sepeda kuno yang tersebar di Indonesia, salah satunya Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI).

Di sejumlah negara seperti India, Paksitan, Belanda, China, Bangladesh sepeda model seperti ini masih banyak digunakan diperkotaan maupun pedesaan.Di Asia Selatan sepeda onthel masih umum digunakan masyarakat kelas menengah dan kebawah.

Sementara di Indonesia sepeda onthel biasanya digunakan masyarakat diperkampungan untuk keperluan pertanian dan perdangan. Di Jakarta Utara dan Kota Tua, Jakarta sepeda onthel digunakan untuk ojek sepeda dan digunakan sebagai wahana sewa untuk wisatawan. (dar)

Tim Kediriapik
Berikutnya

Terkait Posting

Komentar